Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Pelukan perdamaian

JARUM jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Suasana ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, berbeda dari biasanya. Sejumlah lelaki berpakaian PNS di ruangan itu tampak sibuk. Di antaranya ada yang sedang menunggu tamu. Beberapa lainnya mempersiapkan acara. Sementara di bagian depan ruangan puluhan kursi tertata rapi. Hampir semuanya sudah terisi.

Sebuah baliho besar dipajang menjadi latar tempat acara berlangsung.Assalamualaikum, ucap Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang baru saja turun dari mobil. Zaini disambut beberapa pejabat. Di antaranya Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra SH dan Bupati Aceh Tengah, Drs Nasaruddin dan lainnya. Kehadiran Gubernur Senin (3/6) kemarin di ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, sangat bersahaja. Mantan menteri Luar Negeri GAM ini didaulat menjadi juru damai dalam kasus kerusuhan massa saat berlangsungnya Pekan Olahraga Pelajar (Popda) di Banda Aceh, 27 Juni 2012. Bentrokan ini melibatkan kontingen dua daerah, Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Ratusan pelajar dan mahasiswa dari kedua daerah tersebut terlibat aksi saling serang di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriek, Rabu (27/6) dini hari. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tragis itu, namun 48 unit sepeda motor hangus. Peristiwa ini menggemparkan Banda Aceh, Aceh Tengah dan Aceh Selatan.

***

Kini hampir setahun peristiwa itu berlalu. Berbagai cara ditempuh untuk mendamaikan kedua belah pihak. Puncaknya, Senin kemarin. Ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, menjadi saksi bisu atas perdamaian itu. Di antara para undangan tampak Drs Tgk H A Rahman Kaoy. Ia adalah Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA). Rahman Kaoy diundang untuk mempeusijuek (menepungtawari) kedua belah pihak. Peusijuek adalah upaya membuat sesuatu menjadi dingin. Diharapkan peristiwa serupa tak lagi terulang.

Prosesi peusijuek ini dilakukan terhadap Faisal Muthaladi, korban dari Aceh Tengah, dan Rafly selaku tokoh masyarakat yang mewakili Aceh Selatan. Peusijuek diakhiri dengan saling berjabat tangan. Keduanya juga berpelukan. Tak hanya itu. Ada pemandangan istimewa dalam proses perdamaian kemarin. Gubernur Zaini Abdullah secara spontan melakukan hal yang sama. Ia mengajak Sama Indra dan Nasaruddin berjabat tangan. Ini sebagai simbol perdamaian, kata Gubernur. Ia tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah para undangan.

Saat berbicara di atas podium, ada guratan keprihatinan di raut wajah Zaini. Ia menyesali peristiwa bentrokan itu terjadi. Bukan soal berapa besar materi yang hilang. Tapi ini adalah soal kekompakan. Aceh butuh persatuan untuk menuju ke arah yang lebih baik, ujarnya.

Hal yang lebih menyedihkan, peristiwa itu melibatkan generasi muda, kalangan mahasiswa dan pelajar. Tapi semua kejadian itu sudah berlalu. Jangan terulang kembali, ucapnya.

Pemerintah juga menyediakan Rp 418 juta untuk mengganti 48 sepeda motor yang hangus. Komposisinya: 50% ditanggung Pemerintah Aceh, sedangkan masing-masing 25% ditanggung Pemkab Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Kemarin secara simbolis, Gubernur menyerahkan uang tunai itu kepada dua korban.

Suasana perdamaian juga tampak kental dari pidato para pejabat dari dua daerah itu. Misalkan, pidato Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra. Ia mengatakan Aceh Selatan terkenal dengan produksi pala. Sedangkan Aceh Tengah terkenal dengan kopi.

Kakanda dari Aceh Tengah kalau berkenan kirimlah kopi untuk kami. Tapi seandainya bupati butuh bibit pala kami akan mengirimnya untuk bupati, kata Sama Indra. Pernyataan itu seolah menyimbolkan ada hubungan yang terekat kembali di antara kedua daerah pascabentrokan terjadi. Lalu Sama Indra melanjutkan, tidak ada yang benar dan tidak ada yang dibenarkan atas apa yang telah terjadi. Juga tidak ada yang salah, dan disalahkan, katanya.

Bupati Aceh Tengah Nasaruddin tak tinggal diam. Saat berpidato ia balas, Jangankan kopi, kampung pun kami bersedia mengirim. Di Aceh Selatan ada kampung Gayo namanya, ungkap Nasaruddin.

Dia berharap pascadamai kemarin hubungan Aceh Selatan dan Aceh Tengah kembali bersemi. Semangat perdamaian yang sudah ada harus terus terpelihara. Jangan ada lagi benih-benih permusuhan di antara kita. Apalagi ke depan juga akan ada Pekan Kebudayaan Aceh. Damai ini harus terus dipelihara, ujarnya.

Semangat para tokoh dari Aceh Selatan dan Aceh Tengah ini mendapat apresiasi semua pihak. Termasuk dua korban, Harjulis (20) dan Aulia Mustafa Kamal. Senang, semuanya sudah selesai. Semoga ada hikmahnya, kata Aulia. Mahasiswa FMIPA Unsyiah semester akhir ini menemukan sepeda motor miliknya hangus pada malam nahas itu.

Namun, semangat damai ini ternyata meninggalkan kegusaran bagi Muhammad Basyir. Ia hanya bisa menerima pasrah semua proses yang berjalan. Kami tidak dilibatkan dalam proses perdamaian ini. Padahal ada banyak kawan kami yang juga luka dan berdarah, katanya.

Jari-jarinya menjepit sebatang rokok. Asap mengepul di raut wajahnya. Muhammad Basyir adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (Hamas). Dalam organisasi ini berhimpun pelajar dan mahasiswa. Rata-rata mereka berdomisili di Banda Aceh. Basyir awalnya berpikir akan menjadi salah satu undangan dalam acara itu bersama temannya yang terlibat bentrok dan akan dipeusijuek. Tapi itu tak terjadi.

Saya cuma diberitahu tadi malam (kemarin malam -red). Disuruh datang tiga orang saja, katanya seraya menambahkan, Saya tak bisa masuk kalau teman-teman saya tak diundang. Sementara mereka (pihak Aceh Tengah) banyak yang datang, bandingnya.

Basyir menilai perdamaian yang terjadi kemarin hanya sebatas pedamaian antartokoh masyarakat dan pemerintah kedua daerah itu.

Pemerintah koordinasinya dengan Dispora Aceh Tengah dan Aceh Selatan. Tak ada koordinasi dengan kami. Jadi, saya pikir proses perdamaian ini sebatas antarpemerintah. Bukan antarmahasiswa, ujar Basyir sambil meninggalkan tempat acara. (ansari)


Bersama Ayah Jamal di Pasar Sayur Peunyong
NAMANYA Ayah Jamal (56). Ia adalah pedagang kaki lima di Pasar Sayur Peunayong, Banda Aceh. Ayah Jamal bersama para penjual kecil lainnya, sehari-hari hanya mampu mengahasilkan Rp 50 ribu dari menjual timun, terong, sawi, daun ubi, dan lain-lain di emperan jalan.

Ia berjualan dari pukul 07.00 wib, berangkat naik labi-labi dari sebuah desa di Kuta Baro, Aceh Besar. Sorenya ia kebali ke rumah sekitar pukul 16.00 wib. Nanti malam pemerintah bakal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ayah Jamal dipastikan ikut merasakan dampak dari kebijakan politis pemerintah itu. Setidaknya bahan kebutuhan pokok bakal ikutan naik juga.

Tentu saja biaya transpor labi-labi yang digunakannya untuk sampai ke pasar juga naik. Sedangkan pendapatan setiap hari Ayah Jamal tetap saja stabil.

“Tapi kalau rezeki itu sama Allah. Kita rakyat kecil. Mau tidak mau juga harus ikut, meski terasa pahit,” ujarnya. (ansari)




PANTAI Pasir Putih di Desa Lhok Mee, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar ternyata tak hanya
Wow, Gurita menghisap dan melilit
menyimpan pesona eksotik akan keindahan pantainya.Namun di balik hamparan pasir laut putih dengan airnya yang jernih menyimpan satu tradisi warga atau nelayan setempat yang amat menarik yakni; memburu gurita!Pemandangan ini setidaknya saya lihat saat berekreasi bersama keluarga ke pantai itu 4 November lalu. Beberapa warga dan nelayan setempat tampak turun ke dasar bibir pantai yang dipenuhi terumbu karang.
Para pemburu

Bila air pasang terumbu karang tempat gurita bersembunyi tidak begitu kelihatan, karena ditutupi air laut berwarna biru. Namun setelah air surut sekitar sore hari, terumbu karang yang sebelumnya hanya kelihatan samar-samar sudah jelas terlihat. Maka perburuan gurita pun dimulai.
Sedang berusaha mengeluarkan
Biasanya gurita yang diburu warga bersembunyi di dasar air di antara terumbu karang. Bagi pemburu yang sudah biasa, akan dengan mudah menemukan lokasi gurita bersembunyi. Setiap nelayan atau pemburu gurita hanya menggunakan satu besi kecil (stik) seukuran jari-jari sepeda motor. Setiap stik berukuran sekitar setengah meter yang ujungnya dibengkokkan. Para pemburu menyisir dimana ada ruang dalam terumbu karang, dengan memasukkan stik ke dalam rongga yang terdapat di antara terumbu karang tersebut.
Baru dikeluarkan dari sarang
Untuk mengetahui gurita ada dalam rongga terumbu karang, Si Pemburu perlu memasukkan stik dan kalau memang gurita bersembunyi di dalamnya, akan terasa kenyal. Nah, di sinilah para pemburu hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala) ini berusaha mengeluarkannya dari pesembunyian.

Tanda yang paling umum juga dapat diketahui, saat stik dimasukkan dalam rongga yang terbentuk di antara bongkahan karang, terkadang gurita mengeluarkan jeli (sejenis lendir) berwarna kecokelatan. Sekali seprot, permukaan air berubah jadi cokelat. Tanda ini semakin meyakinkan Si Pemburu memastikan gurita bersembunyi di dalam terumbu karang tersebut. Konon, jeli warna kecokelatan yang disemprotkan gurita adalah cara hewan yang memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa--ini untuk menghilangkan jejak dari pemangsa atau musuhnya.
Gurita mengeluarkan jel cokelat
Biasanya para pemburu dapat dengan mudah menangkap gurita setelah diketahui bersembunyi di balik karang. Bagi pemburu yang sudah berpengalaman, hanya butuh waktu yang tidak terlalu lama untuk mengeluarkan gurita dari persembunyiannya. Namun ada pula yang kalah "pintar" gurita lolos dari incaran dan selamat.

Biasanya, setelah berhasil ditangkap, gurita melawan dengan melilitkan lengan dan menghisap kulit tangan Si Pemburu. Namun oleh pemburu perlawanan gurita ini tidak begitu menakutkan dan bahaya. Buktinya setelah gurita berhasil ditangkap, pemburu ternyata punya trik tersendiri untuk melemahkan tenaga gurita yaitu dengan membalikkan kulit kepalanya hingga bagian kepala atas masuk kedalam. Konon, dengan cara ini, gurita tidak dapat melihat dan tenaganya makin melemah.
Hasil tangkapan
Setelah ini dilakukan gurita selanjutnya dimasukkan dalam karung. Para pemburu kemudian kembali menyisir lokasi lainnya dengan cara melihat ke dalam air dengan permukaannya yang transparan. Memang agak miris juga melihat saat pemburu membalikkan kulit kepala Si Gurita, karena tentu dia merasa sangat kesakitan. Tapi hanya dengan cara itu, gurita dapat dilumpuhkan untuk bisa dibawa pulang.

Lokasi tempat gurita bersembunyi dan diburu tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Kira-kira sekitar 200 meter dengan kedalaman sekitar setegah meter, atau bahkan bisa lebih rendah lagi. Tradisi memburu gurita ini sudah berlangsung lama dan menjadi salah satu mata pencarian masyarakat Lhok Mee. Sebab, gurita yang mereka tangkap bisa dijual ke pasar atau dibuat asinan. Tentu rasa dagingnya yang kenyal jika dimasak dengan bumbu dapur akan menjadi menu hidangan yang luar biasa sedapnya.
Sedang membeli
Siap dibawa pulang
Terkadang gurita yang baru saja ditangkap juga langsung dibeli oleh pengunjung pantai yang ikut menyaksikan tradisi perburuan ini. Saya sendiri melihat seorang wanita membeli satu gurita yang berhasil ditangkap pemburu seharga Rp 30 ribu.
Harganya memang sangat relatif tergantung dari besarnya. Bagi nelayan setempat memburu gurita menjadi kebiasaan lain di luar menangkap ikan di laut lepas. Tidak hanya itu, tradisi perburuan gurita ini juga menjadi tontonan menarik bagi setiap pengunjung pantai itu di sore hari kala air laut mulai surut.

Bila Anda tertarik mungkin bisa melihatnya langsung lebih dekat. Jangan lupa ajak juga anggota keluarga Anda sambil menikmati panorama alam di sekitar pantai yang menyuguhkan beragan keindahan. Selamat mengunjungi. (ansari hasyim)

Banda Aceh, 5 November 2013

7 November 2013

Ketika Kopi dan Pala Bersanding

Pelukan perdamaian

JARUM jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Suasana ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, berbeda dari biasanya. Sejumlah lelaki berpakaian PNS di ruangan itu tampak sibuk. Di antaranya ada yang sedang menunggu tamu. Beberapa lainnya mempersiapkan acara. Sementara di bagian depan ruangan puluhan kursi tertata rapi. Hampir semuanya sudah terisi.

Sebuah baliho besar dipajang menjadi latar tempat acara berlangsung.Assalamualaikum, ucap Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang baru saja turun dari mobil. Zaini disambut beberapa pejabat. Di antaranya Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra SH dan Bupati Aceh Tengah, Drs Nasaruddin dan lainnya. Kehadiran Gubernur Senin (3/6) kemarin di ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, sangat bersahaja. Mantan menteri Luar Negeri GAM ini didaulat menjadi juru damai dalam kasus kerusuhan massa saat berlangsungnya Pekan Olahraga Pelajar (Popda) di Banda Aceh, 27 Juni 2012. Bentrokan ini melibatkan kontingen dua daerah, Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Ratusan pelajar dan mahasiswa dari kedua daerah tersebut terlibat aksi saling serang di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriek, Rabu (27/6) dini hari. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tragis itu, namun 48 unit sepeda motor hangus. Peristiwa ini menggemparkan Banda Aceh, Aceh Tengah dan Aceh Selatan.

***

Kini hampir setahun peristiwa itu berlalu. Berbagai cara ditempuh untuk mendamaikan kedua belah pihak. Puncaknya, Senin kemarin. Ruang Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, menjadi saksi bisu atas perdamaian itu. Di antara para undangan tampak Drs Tgk H A Rahman Kaoy. Ia adalah Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA). Rahman Kaoy diundang untuk mempeusijuek (menepungtawari) kedua belah pihak. Peusijuek adalah upaya membuat sesuatu menjadi dingin. Diharapkan peristiwa serupa tak lagi terulang.

Prosesi peusijuek ini dilakukan terhadap Faisal Muthaladi, korban dari Aceh Tengah, dan Rafly selaku tokoh masyarakat yang mewakili Aceh Selatan. Peusijuek diakhiri dengan saling berjabat tangan. Keduanya juga berpelukan. Tak hanya itu. Ada pemandangan istimewa dalam proses perdamaian kemarin. Gubernur Zaini Abdullah secara spontan melakukan hal yang sama. Ia mengajak Sama Indra dan Nasaruddin berjabat tangan. Ini sebagai simbol perdamaian, kata Gubernur. Ia tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah para undangan.

Saat berbicara di atas podium, ada guratan keprihatinan di raut wajah Zaini. Ia menyesali peristiwa bentrokan itu terjadi. Bukan soal berapa besar materi yang hilang. Tapi ini adalah soal kekompakan. Aceh butuh persatuan untuk menuju ke arah yang lebih baik, ujarnya.

Hal yang lebih menyedihkan, peristiwa itu melibatkan generasi muda, kalangan mahasiswa dan pelajar. Tapi semua kejadian itu sudah berlalu. Jangan terulang kembali, ucapnya.

Pemerintah juga menyediakan Rp 418 juta untuk mengganti 48 sepeda motor yang hangus. Komposisinya: 50% ditanggung Pemerintah Aceh, sedangkan masing-masing 25% ditanggung Pemkab Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Kemarin secara simbolis, Gubernur menyerahkan uang tunai itu kepada dua korban.

Suasana perdamaian juga tampak kental dari pidato para pejabat dari dua daerah itu. Misalkan, pidato Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra. Ia mengatakan Aceh Selatan terkenal dengan produksi pala. Sedangkan Aceh Tengah terkenal dengan kopi.

Kakanda dari Aceh Tengah kalau berkenan kirimlah kopi untuk kami. Tapi seandainya bupati butuh bibit pala kami akan mengirimnya untuk bupati, kata Sama Indra. Pernyataan itu seolah menyimbolkan ada hubungan yang terekat kembali di antara kedua daerah pascabentrokan terjadi. Lalu Sama Indra melanjutkan, tidak ada yang benar dan tidak ada yang dibenarkan atas apa yang telah terjadi. Juga tidak ada yang salah, dan disalahkan, katanya.

Bupati Aceh Tengah Nasaruddin tak tinggal diam. Saat berpidato ia balas, Jangankan kopi, kampung pun kami bersedia mengirim. Di Aceh Selatan ada kampung Gayo namanya, ungkap Nasaruddin.

Dia berharap pascadamai kemarin hubungan Aceh Selatan dan Aceh Tengah kembali bersemi. Semangat perdamaian yang sudah ada harus terus terpelihara. Jangan ada lagi benih-benih permusuhan di antara kita. Apalagi ke depan juga akan ada Pekan Kebudayaan Aceh. Damai ini harus terus dipelihara, ujarnya.

Semangat para tokoh dari Aceh Selatan dan Aceh Tengah ini mendapat apresiasi semua pihak. Termasuk dua korban, Harjulis (20) dan Aulia Mustafa Kamal. Senang, semuanya sudah selesai. Semoga ada hikmahnya, kata Aulia. Mahasiswa FMIPA Unsyiah semester akhir ini menemukan sepeda motor miliknya hangus pada malam nahas itu.

Namun, semangat damai ini ternyata meninggalkan kegusaran bagi Muhammad Basyir. Ia hanya bisa menerima pasrah semua proses yang berjalan. Kami tidak dilibatkan dalam proses perdamaian ini. Padahal ada banyak kawan kami yang juga luka dan berdarah, katanya.

Jari-jarinya menjepit sebatang rokok. Asap mengepul di raut wajahnya. Muhammad Basyir adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (Hamas). Dalam organisasi ini berhimpun pelajar dan mahasiswa. Rata-rata mereka berdomisili di Banda Aceh. Basyir awalnya berpikir akan menjadi salah satu undangan dalam acara itu bersama temannya yang terlibat bentrok dan akan dipeusijuek. Tapi itu tak terjadi.

Saya cuma diberitahu tadi malam (kemarin malam -red). Disuruh datang tiga orang saja, katanya seraya menambahkan, Saya tak bisa masuk kalau teman-teman saya tak diundang. Sementara mereka (pihak Aceh Tengah) banyak yang datang, bandingnya.

Basyir menilai perdamaian yang terjadi kemarin hanya sebatas pedamaian antartokoh masyarakat dan pemerintah kedua daerah itu.

Pemerintah koordinasinya dengan Dispora Aceh Tengah dan Aceh Selatan. Tak ada koordinasi dengan kami. Jadi, saya pikir proses perdamaian ini sebatas antarpemerintah. Bukan antarmahasiswa, ujar Basyir sambil meninggalkan tempat acara. (ansari)

Suara Mereka Jelang BBM Naik


Bersama Ayah Jamal di Pasar Sayur Peunyong
NAMANYA Ayah Jamal (56). Ia adalah pedagang kaki lima di Pasar Sayur Peunayong, Banda Aceh. Ayah Jamal bersama para penjual kecil lainnya, sehari-hari hanya mampu mengahasilkan Rp 50 ribu dari menjual timun, terong, sawi, daun ubi, dan lain-lain di emperan jalan.

Ia berjualan dari pukul 07.00 wib, berangkat naik labi-labi dari sebuah desa di Kuta Baro, Aceh Besar. Sorenya ia kebali ke rumah sekitar pukul 16.00 wib. Nanti malam pemerintah bakal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ayah Jamal dipastikan ikut merasakan dampak dari kebijakan politis pemerintah itu. Setidaknya bahan kebutuhan pokok bakal ikutan naik juga.

Tentu saja biaya transpor labi-labi yang digunakannya untuk sampai ke pasar juga naik. Sedangkan pendapatan setiap hari Ayah Jamal tetap saja stabil.

“Tapi kalau rezeki itu sama Allah. Kita rakyat kecil. Mau tidak mau juga harus ikut, meski terasa pahit,” ujarnya. (ansari)

5 November 2013

Pemburu Gurita di Pantai Pasir Putih




PANTAI Pasir Putih di Desa Lhok Mee, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar ternyata tak hanya
Wow, Gurita menghisap dan melilit
menyimpan pesona eksotik akan keindahan pantainya.Namun di balik hamparan pasir laut putih dengan airnya yang jernih menyimpan satu tradisi warga atau nelayan setempat yang amat menarik yakni; memburu gurita!Pemandangan ini setidaknya saya lihat saat berekreasi bersama keluarga ke pantai itu 4 November lalu. Beberapa warga dan nelayan setempat tampak turun ke dasar bibir pantai yang dipenuhi terumbu karang.
Para pemburu

Bila air pasang terumbu karang tempat gurita bersembunyi tidak begitu kelihatan, karena ditutupi air laut berwarna biru. Namun setelah air surut sekitar sore hari, terumbu karang yang sebelumnya hanya kelihatan samar-samar sudah jelas terlihat. Maka perburuan gurita pun dimulai.
Sedang berusaha mengeluarkan
Biasanya gurita yang diburu warga bersembunyi di dasar air di antara terumbu karang. Bagi pemburu yang sudah biasa, akan dengan mudah menemukan lokasi gurita bersembunyi. Setiap nelayan atau pemburu gurita hanya menggunakan satu besi kecil (stik) seukuran jari-jari sepeda motor. Setiap stik berukuran sekitar setengah meter yang ujungnya dibengkokkan. Para pemburu menyisir dimana ada ruang dalam terumbu karang, dengan memasukkan stik ke dalam rongga yang terdapat di antara terumbu karang tersebut.
Baru dikeluarkan dari sarang
Untuk mengetahui gurita ada dalam rongga terumbu karang, Si Pemburu perlu memasukkan stik dan kalau memang gurita bersembunyi di dalamnya, akan terasa kenyal. Nah, di sinilah para pemburu hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala) ini berusaha mengeluarkannya dari pesembunyian.

Tanda yang paling umum juga dapat diketahui, saat stik dimasukkan dalam rongga yang terbentuk di antara bongkahan karang, terkadang gurita mengeluarkan jeli (sejenis lendir) berwarna kecokelatan. Sekali seprot, permukaan air berubah jadi cokelat. Tanda ini semakin meyakinkan Si Pemburu memastikan gurita bersembunyi di dalam terumbu karang tersebut. Konon, jeli warna kecokelatan yang disemprotkan gurita adalah cara hewan yang memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa--ini untuk menghilangkan jejak dari pemangsa atau musuhnya.
Gurita mengeluarkan jel cokelat
Biasanya para pemburu dapat dengan mudah menangkap gurita setelah diketahui bersembunyi di balik karang. Bagi pemburu yang sudah berpengalaman, hanya butuh waktu yang tidak terlalu lama untuk mengeluarkan gurita dari persembunyiannya. Namun ada pula yang kalah "pintar" gurita lolos dari incaran dan selamat.

Biasanya, setelah berhasil ditangkap, gurita melawan dengan melilitkan lengan dan menghisap kulit tangan Si Pemburu. Namun oleh pemburu perlawanan gurita ini tidak begitu menakutkan dan bahaya. Buktinya setelah gurita berhasil ditangkap, pemburu ternyata punya trik tersendiri untuk melemahkan tenaga gurita yaitu dengan membalikkan kulit kepalanya hingga bagian kepala atas masuk kedalam. Konon, dengan cara ini, gurita tidak dapat melihat dan tenaganya makin melemah.
Hasil tangkapan
Setelah ini dilakukan gurita selanjutnya dimasukkan dalam karung. Para pemburu kemudian kembali menyisir lokasi lainnya dengan cara melihat ke dalam air dengan permukaannya yang transparan. Memang agak miris juga melihat saat pemburu membalikkan kulit kepala Si Gurita, karena tentu dia merasa sangat kesakitan. Tapi hanya dengan cara itu, gurita dapat dilumpuhkan untuk bisa dibawa pulang.

Lokasi tempat gurita bersembunyi dan diburu tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Kira-kira sekitar 200 meter dengan kedalaman sekitar setegah meter, atau bahkan bisa lebih rendah lagi. Tradisi memburu gurita ini sudah berlangsung lama dan menjadi salah satu mata pencarian masyarakat Lhok Mee. Sebab, gurita yang mereka tangkap bisa dijual ke pasar atau dibuat asinan. Tentu rasa dagingnya yang kenyal jika dimasak dengan bumbu dapur akan menjadi menu hidangan yang luar biasa sedapnya.
Sedang membeli
Siap dibawa pulang
Terkadang gurita yang baru saja ditangkap juga langsung dibeli oleh pengunjung pantai yang ikut menyaksikan tradisi perburuan ini. Saya sendiri melihat seorang wanita membeli satu gurita yang berhasil ditangkap pemburu seharga Rp 30 ribu.
Harganya memang sangat relatif tergantung dari besarnya. Bagi nelayan setempat memburu gurita menjadi kebiasaan lain di luar menangkap ikan di laut lepas. Tidak hanya itu, tradisi perburuan gurita ini juga menjadi tontonan menarik bagi setiap pengunjung pantai itu di sore hari kala air laut mulai surut.

Bila Anda tertarik mungkin bisa melihatnya langsung lebih dekat. Jangan lupa ajak juga anggota keluarga Anda sambil menikmati panorama alam di sekitar pantai yang menyuguhkan beragan keindahan. Selamat mengunjungi. (ansari hasyim)

Banda Aceh, 5 November 2013

2 November 2013

Ah...Cinta

Aduh mati aku!
kau cinta datang lagi
sudah kuberi seribu bintang
cahaya rembulan pun kau renggut

kini kau datang lagi meminta hatiku
itupun sudah kuberi sejak dahulu
bagaimana kutahu kalau kau sejujur itu padaku
Ah, cinta!

B. Aceh 1-11-2013

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget